Penerus Guru Masa Depan, Mahasiswa FTIK UIN Bukittinggi Dibekali Wawasan Moderasi Beragama

Photo : Humas UIN Bukittinggi

Bukittinggi. Rabu, 14 September 2022. Rangkaian Studium Generale dengan tema Moderasi Beragama yang difasilitasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi telah memasuki jadwal kedua. Kali ini giliran Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menerima Kuliah Umum Moderasi Beragama, pada Rabu (14/9/2022) pukul 09.00 WIB di Aula Student Centre Kampus 2 Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Masih menghadirkan narasumber yang sama dari Kepolisian Daerah (Polda) Prov. Sumatera Barat, yakni AKBP Ichwan, SH selaku Kasubdit Bintibsos.

Studium Generale dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari seribu peserta, yang terdiri dari Pimpinan, Pejabat Struktural dan Fungsional, Dosen, serta Mahasiswa dari FTIK.

“Kebhinnekaan agama dan budaya yang beragam di Tanah Air Indonesia ini harus diimbangi dengan konsep toleransi yang kuat,” ungkap narasumber mengawali pelaksanaan Studium Generale.

Menurutnya, urgensi untuk menerapkan pemahaman yang moderat perlu diajarkan sejak dini terutama di bangku perkuliahan. Bukan tanpa alasan, mahasiswa yang terdiri dari pemuda dan pemudi merupakan corong komunikator dan penerus bangsa. Terkhusus kepada Fakultas yang menjadi cikal bakal lahirnya Calon Guru masa depan. Pemahaman tentang toleransi merupakan hal krusial yang membawa praktek moderasi menjadi prinsip dasar dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

“Moderasi Beragama bukan kegiatan mencampur adukkan agama, melainkan untuk menghargai dan toleransi dalam keberagaman yang ada sehingga tidak terjebak dalam situasi radikalisme dan ekstremisme,” ucapnya menegaskan.

Lebih lanjut beliau menekankan bahwa moderasi beragama ini bukanlah upaya untuk memoderasikan agama, melainkan untuk memoderasikan pemahaman, pemikiran dan pengalaman dalam beragama. Sehingga nantinya akan terwujud sikap saling toleransi dan menghargai perbedaan yang ada. Jika manusia saling bertoleransi, tidak akan ada kekerasan yang terjadi. Hingga di hasil akhir, akan tercipta Keamanan dan Ketertiban di dalam kehidupan Beragama, Sosial dan Budaya. (*Humas UIN Bukittinggi)